Live with The Moment

Perkembangan teknologi informasi dan dokumentasi saat ini sangat cepat. Kita dapat mendokumentasikan lalu membagikan media yang diambil dalam bentuk foto maupun video dengan segera melalui perangkat telepon cerdas (smartphone) ketika ada sinyal 3G atau 4G. Para pegiat alam terbuka pun tidak mau ketinggalan untuk ambil bagian dalam hal ini.

Tanpa kita sadari, secara tidak langsung, keinginan mendokumentasikan dan membagikan aktifitas di alam bebas ini mengambil alih interaksi kita dan teman seperjalan dengan alam yang kita kunjungi. Kita disibukkan dengan mencari tempat yang terlihat indah untuk didokumentasikan. Kita disibukkan oleh smartphone ataupun kamera digital untuk mengambil dan membagikan foto atau video. Kita mengeluhkan tidak adanya sinyal 3G atau 4G.

Dokumentasi memang penting untuk memudahkan kita untuk mengingat apa yang sudah dilakukan saat ini di masa yang akan datang. Tetapi interaksi langsung akan lebih bermakna dan melekat. Contohnya: saya masih teringat dan dapat membayangkan bagaimana ayah saya melatih saya belajar naik sepeda. Saat itu saya mengayuh dan berusaha menyeimbangkan sepeda BMX dan ayah saya mengikuti sambil berjalan, berlari kecil, dan memegang sadel ketika sepeda tidak seimbang. Kenangan itu masih teringat sampai sekarang. Saya masih teringat bagaimana rasanya menyeberangi Sungai Citarum saat debit air cukup deras dengan tali kernmantel yang dibentangkan. Rasanya seperti saya yang maju, bukan sungai yang mengalir. Kenangan itu masih terbayang. Saya masih teringat bagaimana rasanya menyeberangi muara saat menyusuri pantai selatan Jawa Barat, saat itu tali yang saya pegang terlepas dan saya langsung terbawa arus ke arah laut. Saya masih teringat bagaimana rasanya tidur di atas pohon, dan banyak lagi. Saya tidak memiliki dokumentasinya, tetapi saya merasakan dan dengan mudah mengingatnya.

Tentunya kita juga memiliki dokumentasi kegiatan atau aktifitas kita di alam bebas, tapi dapatkah kita dengan mudah mengenang apa yang kita rasakan saat itu? Alam merupakan sarana yang paling baik untuk belajar ketika kita secara sadar mau berinteraksi dengan alam.

Pertanyaannya, siapakah kita?

Kita adalah panca indera kita. Bagaimana mata kita memandang dan menikmati indahnya alam. Bagaimana telinga kita mendengar suara angin di lembah-lembah, di antara pepohonan, suara binatang liar dan suara air yang mengalir. Bagaimana kulit kita merasakan sejuknya hembusan angin, merasakan goresan ranting atau ilalang, merasakan dinginnya air, merasakan hangatnya sinar matahari. Bagaimana tangan kita menjaga keseimbangan, kaki kita menginjak tanah becek dan berlumpur atau pun menyeberangi sungai kecil.

Kita adalah jiwa kita. Bagaimana kita merenung, berkontemplasi, berfikir, mengenang, melawan rasa lelah,  kreatif, cekatan, tidak putus asa, menaklukkan diri sendiri.

Dan, yang tak kalah penting adalah teman seperjalan kita. Bagaimana kita saling berinteraksi selama perjalanan itu sangat penting dan akan mudah kita kenang. Apabila kita berinteraksi dengan baik maka kita akan lebih mengenal karakter yang sesungguhnya dari teman seperjalan kita. Terlebih lagi jika teman perjalanan kita adalah anak-anak kita sendiri, interaksi ini adalah sangat penting untuk lebih mengenal anak-anak kita secara mendalam. Dan pengalaman ini akan tersimpan dalam memori kita semua.

Seiring berjalannya waktu kita di alam bebas, jangan sampai kesibukkan fikiran dan tindakan untuk mendokumentasikan dan membagikan aktifitas mengambil alih atau pun mendominasi interaksi kita dengan alam dan teman seperjalanan.

LIVE WITH THE MOMENT.

Bandung, 3 Februari 2017 – 11:50 malam.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *